Site Overlay

Akuisisi Pengetahuan (Acquisition of Knowledge) Pada Kapasitas Absorptif (Absorptive Capacity) Organisasi

Akuisisi Pengetahuan (Acquisition of Knowledge) Pada  Kapasitas Absorptif (Absorptive Capacity)  Organisasi

Pertukaran informasi yang semakin cepat mendorong organisasi untuk selalu dapat menangkap  peluang yang ada melalui pengembangan kapasitas absorptif agar tetap bertahan di pasar. Kapasitas absorptif merupakan salah satu perspektif baru yang dikembangan dalam ranah pembelajaran, inovasi dan budaya organisasi.

Kapasitas absorptif sendiri merupakan kemampuan yang dimiliki oleh organisasi dalam menangkap peluang eksternal yang ada melalui peredaran informasi yang ada, untuk kemudian digunakan dalam mendukung aktivitas dan proses inovasi yang dilakukan perusahaan (Cohen & Levinthal, 1990).

Manfaat utama yang akan diperoleh organisasi ketika dapat mengembangkan kapasitas absorptif yang dimiliki diantaranya adalah memperluas pangsa pasar, selain dengan mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar maupun dapat mengadaptasikan produk agar dapat diterima pasar yang dituju. 

Integrative culture merupakan sebuah budaya yang dilakukan dengan mengedepankan keberagaman di antara para anggota organisasi yang dapat mendorong terciptanya sebuah inovasi. Berbeda dengan model inovasi tradisional pada produk yang dilakukan dengan mengembangkan produk secara internal dan kemudian mendistribusikannya di pasar,  open innovation dilakukan dengan membangun jaringan inovasi secara strategis.

Keberagaman anggota untuk mendukung inovasi dapat diimplementasikan melalui penempatan anggota di dalam organisasi dengan latar belakang keahlian yang berbeda-beda namun dapat saling melengkapi.  Keanggotaan dengan latar keahlian yang beragam dapat mendorong sebuah akuisisi pengetahuan dari berbagai informasi untuk kemudian dapat menghasilkan sebuah insight.

Menurut Cohen & Levinthal (1990), Insight menjadi sebuah output yang penting dalam proses akuisisi karena melalui insight sebuah solusi dapat disusun untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Sebelum pengetahuan diakuisisi organisasi secara akumulatif, proses akusisi pengetahuan melalui kegiatan berbagi informasi di antara anggota organisasi terlebih dahulu. Keberagaman latar belakang keahlian yang dimiliki para anggota organisasi dapat mendorong proses pengolahan informasi yang beragam dan dapat berubah secara dinamis diantara satu bidang dengan bidang lainnya.

Salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan proses akuisisi pengetahuan masing-masing anggota organisasi untuk kemudian menjadi proses akuisisi pengetahuan organisasi adalah melalui pembentukan task force team untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Anggota yang berada di dalam task force team tersebut dapat terdiri dari beberapa anggota dari masing-masing divisi yang dimiliki organisasi. 

Sebagai contoh, Divisi R&D dapat bekerja sama dengan divisi pemasaran dan divisi operasi untuk mengembangkan sebuah produk. Divisi R&D dapat memperoleh beberapa informasi yang ada, menganailisis pola dan trend, kemudian memvisualisasikan hasil analisis tersebut, dan menginformasikan insight yang diperoleh kepada divisi pemasaran dan divisi operasi.

Kemudian divisi pemasaran akan melakukan analisis kebutuhan pasar dan peluang yang memungkinkan untuk mengembangkan sebuah produk baru. Apabila hasil analisis menunjukkan jika pengembangan produk baru memungkinkan dan sangat menguntungkan bagi organisasi dalam beberapa waktu yang akan datang, divisi pemasaran kemudian akan melakukan koordinasi dengan divisi operasi guna mempersiapkan keperluan produksi dan menjadwalkan waktu produksi serta unit produk yang dihasilkan. 

Menurut cognitive structure and behavioral science, proses akuisisi pengetahuan terjadi karena adanya memory development masing-masing individu. Memory development dilakukan masing-masing individu dengan mengasimilasikan pengetahuan baru terhadap pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki. Proses tersebut terjadi karena adanya proses mengingat dan menghubungkan objek, pola, konsep serta keterkaitan antara pengetahuan baru yang didapatkan dari lingkungan eksternal dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Proses tersebut, lebih mudah terjadi apabila pengetahuan baru yang hendak dipelajari oleh masing-masing individu masih terkait dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Lebih lanjut, memory development juga dipengaruhi oleh learning language dari masing-masing individu. Learning language berhubungan dengan tingkat kemudahan masing-masing individu dalam mengeksplorasi kata-kata baru dari pengetahuan yang hendak dipelajari. 

Kondisi tersebut mengharuskan masing-masing individu untuk dapat memahami secara kontekstual terkait pembelajaran yang akan dilakukan. Hal tersebut dapat memengaruhi learning performance dari masing-masing individu yang berujung pada keberhasilan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Proses akuisisi memberikan manfaat dan kekurangan bagi organisasi.

Di satu sisi, pemberian tugas-tugas dengan pengetahuan yang relatif baru bagi individu bermanfaat dalam menambah gudang ilmu pengetahuan dan insight yang mungkin dapat dibutuhkan untuk memecahkan sebuah permasalahan ke depannya. Sebaliknya, kondisi tersebut juga dapat merugikan bagi organisasi apabila mereka memiliki tenggat waktu tertentu untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dan mereka mengandalkan individu-individu dengan proses pembelajaran baru untuk memberikan sebuah solusi. Dapat saja, hal tersebut berujung pada terhambatnya proses pemecahan masalah karena individu tersebut terlalu lama dalam memberikan sebuah solusi. 

Lebih lanjut, kondisi tersebut dapat diperparah ketika para individu tidak dapat melakukan sebuah transfer knowledge ke dalam organisasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Cohen & Levinthal (1990) menuliskan sebuah solusi melalui ketersediaan sesorang dengan gatekeeper capabilities untuk menghubungkan antara individu dari berbagai divisi di dalam organisasi ketika mereka melakukan kerja di dalam sebuah task force team terhadap lingkungan eksternal.

Seorang gatekepeer disarankan memiliki kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif dan efisien sebagai salah satu fungsi terhadap organizational absorptive capabilities. Proses komunikasi dari task force team dapat dilakukan diantara individu dengan tingkat dan jenis pengetahuan yang sama.

Akan tetapi, kondisi tersebut dapat menghambat penyerapan informasi eksternal yang benar-benar berbeda sehingga inovasi tidak dapat dicapai oleh organisasi. Kondisi tersebut terjadi karena adanya keseragaman pengetahuan yang dimiliki masing-masing individu sehingga mengakibatkan cara berpikir atas sebuah masalah sama dan ketika pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak dapat memberikan solusi apapun maka hampir semua orang juga tidak akan memiliki solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Adapun ketika masing-masing individu memiliki pengetahuan yang beragam, baik dari segi lingkup maupun tingkatan pengetahuan, kondisi tersebut lebih menguntungkan karena beragamnya pengetahuan dapat mendorong sebuah tim untuk menangkap sinyal atau kata kunci utama dari permasalahan yang sedang dihadapi organisasi.

Keberagaman pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing individu harus dapat disortir oleh masing-masing individu yang kemudian dapat disebut sebagai critical knowledge dengan beberapa komponen, yakni substantive, technical knowledge, dan awareness yang dapat berguna baik di dalam maupun di luar orgnisasi. Tingkat keberagaman pengetahuan dari masing-masing individu dapat menciptakan sebuah spesialisasi yang akan mendorong terbentuknya sebuah inovasi. Akan tetapi, tingkat spesialisasi tersebut haruslah memiliki sebuah batasan tertentu agar absorptive capacity dari sebuah organisasi dapat berjalan secara maksimal. 

Melalui penjelasan di atas terkait dengan acquisition knowledge pada proses absorptive capacity untuk mendukung terciptanya sebuah inovasi di dalam organisasi, terdapat beberapa rekomendasi yang diberikan kepada para eksekutif perusahaan yang diantaranya:

  1. Pengerjaan sebuah proyek investasi dapat dilakukan oleh task force team dengan anggota yang terdiri dari individu untuk setiap divisi fungsional yang dimiliki perusahaan.
  2. Menyediakan gatekeeper atau penghubung antara lingkungan eksternal dan internal organisasi sendiri sebagai pihak yang dapat mengartikulasikan setiap informasi eksternal yang diperoleh. Gatekeeper dapat berasal dari penasihat perusahaan, orang ahli di bidang proyek yang dimiliki perusahaan, profesor dari universitas yang dipercaya atau pihak konsultan eksternal yang dapat memberikan saran dan arahan terkait informasi eksternal bagi perusahaan.
  3. Menunjuk sebuah manajer proyek dari task force team tersebut untuk dapat melakukan integrasi setiap individu-individu di dalam tim.

Original Paper: Cohen, Wesley M. & Daniel A Levinthal. (1990). Absorptive Capacity: A New Perspective on Learning and Innovation. Administrative Science Quarterly, Vol. 35 (1): pp. 128-152.

Dikembangkan dan dimodifikasi : Mochamad Badowi & Associate Fellow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up